Apolitik Politisi
![]() |
| Jpg Ilustration |
Jalan pikir politik dewasa ini tampaknya semakin kehilangan seni dan siasat sebagaimana makna politik itu sendiri. Politik tidak lagi dipahami sebagai ruang untuk merumuskan kepentingan bersama, melainkan kerap berubah menjadi sumber perselisihan yang berkepanjangan. Ironisnya, pertentangan politik tidak hanya memecah hubungan antarkelompok, tetapi juga merembet ke dalam lingkup keluarga hingga memutus tali persaudaraan.
Karena itu, penting bagi kita untuk memahami hakikat politik secara lebih utuh. Politik sejatinya merupakan ruang perjumpaan berbagai gagasan, kepentingan, dan cita-cita yang dikelola melalui dialog serta kompromi. Saya mengibaratkan politik sebagai sebuah pesta: semua orang datang dengan harapan dapat menari, menikmati hidangan, berbincang, dan merasakan kegembiraan bersama. Dalam sebuah pesta, tidak semua orang harus menjadi pusat perhatian agar dapat menikmati suasana. Demikian pula politik, yang semestinya tidak selalu dipahami sebagai soal menang atau kalah.
Sepanjang literatur yang saya pelajari, saya lebih sepakat bahwa politik berorientasi pada win-win solution, yaitu menghasilkan manfaat bagi sebanyak mungkin pihak. Politik yang sehat bukanlah politik yang melahirkan pemenang tunggal dan meninggalkan kekalahan yang menyakitkan, melainkan politik yang mampu menghadirkan kesepahaman demi kepentingan bersama. Sebagaimana sebuah pesta yang baik, setiap tamu pulang dengan rasa dihargai, bukan dengan luka atau kebencian.
Namun, saya merasa heran melihat kondisi politik kita hari ini. Berpolitik seolah menjadi sesuatu yang kaku, canggung, bahkan menakutkan. Tidak sedikit orang mengatakan bahwa politik itu kejam. Kawan hari ini bisa menjadi lawan esok hari, hingga muncul ungkapan yang sangat populer bahwa tidak ada yang abadi dalam politik selain kepentingan. Ungkapan tersebut mungkin memiliki dasar dalam realitas, tetapi bukan berarti harus menjadi pembenaran bagi hilangnya etika, persahabatan, dan penghormatan terhadap sesama.
Dalam banyak hal, kita seakan sedang mengulang polarisasi politik yang pernah menguat pada pertengahan abad ke-20. Jika kecenderungan itu terus dipelihara, maka yang kita saksikan bukanlah kemajuan demokrasi, melainkan kemunduran dalam cara kita berpolitik. Pertanyaannya, apakah benar kondisi seperti ini yang kita harapkan?
Politik yang baik seharusnya membuka ruang kebebasan seluas-luasnya bagi setiap entitas politik untuk menyampaikan gagasan dan berkompetisi secara sehat. Tidak boleh ada pihak yang merasa paling besar sehingga memandang rendah kelompok lain atau menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang. Demokrasi hanya akan tumbuh apabila semua pihak memperoleh kesempatan yang setara untuk didengar dan dihormati.
Lebih dari itu, politik semestinya menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperluas persahabatan melalui komitmen terhadap kepentingan bersama. Perbedaan pilihan politik tidak seharusnya menjadi alasan lahirnya permusuhan. Sayangnya, kita justru menyaksikan banyak kesalahpahaman yang berujung pada perselisihan, bahkan pemutusan hubungan pertemanan. Sungguh ironis apabila sesuatu yang bertujuan mengelola kehidupan bersama justru merusak hubungan antarmanusia.
Politik juga dapat diibaratkan seperti sebuah meja makan. Yang duduk di sekelilingnya adalah sahabat dan sesama warga, sedangkan yang disajikan bukanlah kebencian, melainkan gagasan, kebutuhan, dan kepentingan bersama. Dalam suasana seperti itu, setiap orang bebas menyampaikan pandangan tanpa harus memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Sebab pada akhirnya, politik adalah soal pilihan, sementara pilihan hanya akan bermakna apabila lahir dari kebebasan, bukan dari tekanan.
Sebelum berbicara tentang kepentingan, ada sesuatu yang jauh lebih bernilai dalam politik, yakni ide dan gagasan. Kepentingan yang tidak dibangun di atas gagasan hanya akan melahirkan transaksi sesaat, sedangkan gagasan yang kuat mampu membangun kepercayaan, menggerakkan orang lain, dan melahirkan kerja sama yang berkelanjutan. Dari sanalah koalisi yang sehat seharusnya terbentuk: bukan semata karena pembagian kekuasaan, tetapi karena adanya kesamaan visi, nilai, dan tujuan.
Sebaliknya, ketika terdapat perbedaan pandangan, perbedaan tersebut harus dipandang sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Tidak ada demokrasi tanpa keberagaman pendapat. Justru melalui perbedaan itulah lahir dialog, koreksi, dan penyempurnaan kebijakan. Yang patut disesalkan adalah ketika perbedaan tidak lagi dijawab dengan argumentasi, melainkan dengan kebencian, penghinaan, atau permusuhan. Akhir-akhir ini, saya merasa ruang politik kita semakin kehilangan adab dalam menyikapi perbedaan.
Pada akhirnya, politik bukan sekadar tentang kekuasaan, melainkan tentang cara kita merawat kehidupan bersama. Politik yang dewasa adalah politik yang mengedepankan etika, menghargai perbedaan, memuliakan gagasan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Jika politik dijalankan dengan semangat seperti itu, maka ia akan menjadi jembatan yang mempertemukan manusia, bukan tembok yang memisahkan mereka.

