Menembus Radar Kekuasaan
![]() |
| Gambar: Paxel |
Beberapa minggu terakhir bangsa ini dihadapkan pada fenomena yang luar biasa, banyak masalah hingga menimbulkan kemarahan publik dari aksi diskusi hingga demonstrasi, fenomena ini sepanjang yang saya amati selalu terjadi pada pertengahan tahun, bukan tanpa sebab tentu karena bertepatan dengan penetapan RAPBN transisi kebijakan dan adabtasi kebijakan politik, ekonomi dan sosial.
Lantas beberapa orang bertanya, dengan begitu apakah kondisi semacam protes pada bulan bulan tersebut terjadi alamiah?, jujur saya sedikit ragu, bukan berarti saya menuduh tetapi kenyataannya begitu mencengangkan tak sedikit dari kelompok kelompok mahasiswa yang bergerak kurang memperhatikan isu regional/daerah padahal jika diamati lebih serius bisa saja lebih banyak menyimpan persoalan. saya mengamati tuntutan akhir-akhir ini, isu yang diangkat sering sekali hanya sebatas isu nasional kemudian itulah yang memantik gerakan di daerah-daerah.
"Dalam benak saya sering bertanya, lebih berpengaruh mana menggemakan isu nasional didaerah-daerah atau menyuarakan isu regional di jantung kekuasaan (Jakarta)." hampir rata-rata tuntutan yang saya baca melalui press rilis hanya berkutat pada isu nasional. kita tahu bahwa kebijakan nasional dampaknya pada daerah juga, hanya saja memikirkan masalah didaerah yang tidak terlalu berdampak di daerah lain juga tak kalah pentingnya. umpama menciptakan riak kecil di tengah samudra-ia bergetar di satu titik, namun energinya perlahan meluas dan menggerakkan air disekitarnya. pada lain hal saya juga teringat pada pernyataan Bung Hatta " indonesia tidak besar karena obor di jakarta, tetapi indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di Desa."
Sebagaimana pernyataan diatas jangan dilihat dari perspektif salah dan benar tetapi refleksikan pada fakta yang terjadi disekitar kita akhir2 ini. setiap gerakan dan aksi protes adalah evaluasi yang berorientasi pada peringatan dan perbaikan, kita tentu mengharapkan kebaikan disetiap lapisan masyarakat dan alangkah baiknya lagi berangkat dari evaluasi pada tingkatan regional yang saya kira lebih dekat dengan keseharian kita. pemikiran saya terkadang masih konvensional seperti berfikir bahwa orang malang atau yang tinggal dimalang lebih tau masalah yang terjadi di malang ketimbang orang jakarta (permisalan), karena masalah sosial,politik, dan ekonomi tidak selalu tampak tapi terasa, artinya melibatkan emosionalitas. dan aktivis-aktivis di daerah saya kira pasti peka dan merekalah yang dapat mengidentifikasi dan menguraikan titik permasalahannya, percayalah ini persoalan emosional dan penyebaran energinya kuat terasa dan cendrung sebatas sesama orang Malang atau yang tinggal di malang yang dapat merasakannya (permisalan). bila kita lebih jeli maka saya membayangkan aksi advokasi akan melampaui momentual bulan tetapi bisa saja setiap bulan dengan berbagai masalah di desa di seluruh penjuru indonesia.
perlu saya garis bawahi bahwa tulisan ini saya kira akan lebih relevan jika di kontekstualisasikan pada daerah-daerah yang jauh dari radar jantung kekuasaan. kembali pada kalimat paragraf pertama dengan toon apakah berbagai aksi protes dan advokasi alamiyah adanya? saya tidak berani menyimpulkan tetapi sebuah keresahan yang potensi jujur dan alamiyah-nya lebih besar bagi saya berangkat dari desa-desa dengan keterbatasan akses, keberanian, dan minim tempat pengaduan. dengan itu senantiasa kita perlu merefleksikan diri untuk mulai memformulasikan hal baru demi sebuah kedaulatan.
"Jangan sampai kita menutup mata bahwa ada banyak saudara kita yang di bungkam dalam sunyi, dimarjinalkan tanpa terkuak. cukup ironis, karena bagi mereka, taruhannya jauh lebih mahal. percayalah, biaya sebuah keberanian orang-orang di desa jauh lebih tinggi dibanding mereka yang berada di k*ta atau mereka yang k*ya. inilah rahasia umum sadar atau tidak, sama-sama kita biarkan"

